
Demi Punya Rumah, Ini yang Dilakukan Istri untuk Suami dan Anak
Rumah pertama yang kami beli adalah kelas RSS type 36m2 dengan luas tanah 72m2. Kami membeli dengan cara kredit tenor 15 tahun dengan harga tunai rumah Rp29jt, pada tahun 2000 (16 tahun yang lalu).
Saat ini pasaran rumah tersebut sekitar Rp250-300jt. Pada mulanya saya dan istri tidak pernah punya niat untuk membeli rumah, karena keadaan ekonomi kami yang dan ada faktor terlena karena tinggal di rumah ibu. Kakak-kakak saya sudah memiliki rumah sendiri-sendiri. Istri saya pun ikut bekerja di perusahaan garmen untuk ikut bantu menopang hidup kami.
Saya bekerja di salah satu BUMN di Bandung. Dua anak kami, berusia 7 dan 1 tahun, tinggal bersama neneknya. Saya mendapat kabar dari kawan di kantor yang sudah merencanakan untuk ambil kredit rumah, karena memang ketika itu di daerah kami tinggal sedang giat-giatnya developer membangun rumah RSS.
Karena saya blm punya niat dan memang secara hitung-hitungan merasa tidak mampu. Tetapi rupanya Allah berkehendak lain. Melalui kawan-kawan saya itu, mereka selalu mengajak dan mengingatkan saya untuk segera merencanakan membeli rumah sendiri seperti mereka.
Singkat cerita, adik ipar saya memberikan informasi bahwa di tempat kerjanya sedang ada penawaran rumah RSS secara kolektif dan dengan berbagai kemudahan, karena ada kerjasama antara developer dengan instansi tersebut. Setelah kami berunding, akhirnya dengan niat kuat dan sedikit nekad kami memutuskan untuk ikut bergabung di kelompok kantor ipar saya.
Semua uang cash yg kami miliki ditambah mas kawin yang ada ternyata cukup untuk membayar DP. Sejak saat itu, istri saya pun rela tidak memiliki perhiasan untuk beberapa tahun ke depan.
Selama proses pembangunan RSS, semua berjalan lancar sampai pada waktunya kami akan melakukan akad kredit. Ternyata rumah RSS yang kami pilih ada kelebihan tanah, dan harus segera dilunasi sebelum akad kredit dilakukan.
Persoalan muncul karena kami sudah tidak memiliki cadangan dana untuk membayar kelebihan tanah. Syukurlah, kami dapat pinjaman lunak dari kawan.
Singkat cerita, setelah kami memiliki rumah RSS tersebut dan mulai mencicil bulanan yang sekitar Rp250rb-an/bln ketika itu, hidup kami betul-betul dalam kondisi di ujung tanduk. Penghasilan yang ada setelah dikurangi cicilan rumah, cuma bisa digunakan untuk kebutuhan pokok saja.
Beberapa bulan berjalan, syukurlah mulai ada peluang-peluang rezeki yaang bisa dipakai buat melunasi pinjaman kawan saya. Pembayaran cicilan bulanan yang semula dirasa sangat berat pun mulai terasa ringan. Akhirnya kami bisa melunasi rumah itu di tahun ke delapan.
Bila saat itu kami tidak pernah berani memutuskan untuk membeli rumah RSS, mungkin ceritanya akan lain. Harga cicilan rumah semakin meningkat, melebihi dari peningkatan kemampuan ekonomi kita pada umunya.
Ini menjadi pelajaran berharga buat kami, bahwa keyakinan untuk berbuat yang baik, positif dan produktif pasti akan mendapatkan jalan terbaik dan kemudahan. Kalau saja kami putuskan untuk mencicil motor baru dari pada mencicil RSS, maka sampai sekarang mungkin kami belum memiliki rumah sendiri.
Demikian cerita singat saya untuk memiliki rumah pertama kami, semoga dapat menjadi inspirasi dan bermanfaat untuk yang membacanya.
Andriana, Cihanjuang, Jawa Barat. Ingin mewujudkan impian punya rumah sendiri seperti Andriana? Baca Review Properti agar Anda dapat mengambil keputusan secara tepat. Jika Anda punya pengalaman menarik dalam menemukan rumah idaman, kirim ke IniCeritaSaya.com. Hadiah jutaan menanti Anda!
0 Response to " Demi Punya Rumah, Ini yang Dilakukan Istri untuk Suami dan Anak "
Posting Komentar